Puisi-puisi Koran Tempo, 23 Februari 2014

Puisi-puisi Koran Tempo


Dari Kenangan Li-Young Lee

Petang musim gugur terhuyung memeluk daun pintu di beranda remang apartemen tua, dua letih bertemu, senyap menatap sekincir kenangan di ranting mapel; gigil sepasang sayap gagak, pelintas perih dua benua, umpama lanun dikutuk membenci bendera apa pun.

Dari satu saku jaket ditariknya sejarik lusuh sisa gaun, hanya lesit bau sangit penyimpan jerit ribuan korban, seakan ampas sejarah terbakar ditanam di kaki nisan, di balik nonsens, denting darah dari dawai samisen dipetik awal bulan Mei sebelum rezim diruntuhkan.

Petang mengapung di sungai keruh, cuaca mengayuh derau angin, selenting desis pada urat betis terbakar adalah kenangan yang lain; kelingking kiri menyeka embun mengalir perlahan di pipi melepuh—sekelam biji mata ikan cod—di sana seorang putri merengek

teringat lengking bidadari mandi dan bujang pemburu mengintip di balik mimosa; dengus di tepian sendang, menyeret puan ke bilik sepi—menanak sebutir nyeri. Sebentar tercekat, erat-erat kaupeluk bahu putrimu sebelum berbisik: “Lupakan dongeng…

View original post 519 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s