Sembang Dhika

Tukang Puisi

aku menegur Dhika di pondok bas
bertanyakan jam lalu berbual terus
dia dari seberang, beristeri dan dua anak
datang ke sini setelah dilambung impian
selain dibusut miskin

Dhika ceria, juga penyewa sepertiku
bercerita bak muncung peluru
dalam angannya terbina kedai khayalan untuk keluarga
tiap pagi jam tujuh dia
bekerja di tapak parkir
sehingga petang beruban
dia tak pulang tapi sambung
mengambil pesanan di restoran
ke hulu ke hilir melangkah
sampai ke tua malam

Dhika tidak mengeluh
dan banyak simpanan sabar
makannya sedikit dan waktu percuma kedekut
dia tak pernah bercuti penuh
dalam seminggu ada sehari cutinya separuh
Dhika tersenyum meminta diri untuk menjemput bas

aku mengangguk, kagum
menyimpan ceritanya dalam buku pengajaran

Jauhar Senapi

View original post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s